LOGIKA FILSAFAT dan SAINTIFIKA
Nama : Fitri Yani Sihombing
Nim : 1920100084
Kelas Filsafat Ilmu PAI 4
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Alhamdulillah berkat Rahmat dan taufik dari Allah Swt, saya dapat memaparkan tulisan saya di blog yang sederhana ini, yaitu materi tentang "Logika Filsafat dan Saintifika". Demi memenuhi tugas dari dosen pengampu kami, bapak DR. Sehat Sultoni Dalimunthe
A. Pengertian Logika
Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (bahasa Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.
Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang objek materialnya adalah berpikir dengan penalaran, dan objek formal logika adalah penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya. Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. Logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari kebenaran.
Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif yaitu:
1. Penalaran deduktif
adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argume dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan - kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Contoh argumen deduktif, "Setiap mamalia punya sebuah jantung ", "Semua kuda adalah mamalia".
2. Penalaran induktif
adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum. Contoh argumen induktif,
"Kuda Sumba punya sebuah jantung"
"Kuda Australia punya sebuah jantung".
Macam - macam logika yaitu :
1. Logika alamiah
Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subjektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir. Logika ini bisa dipelajari dengan memberi contoh penerapan dalam kehidupan nyata.
2. Logika ilmiah
Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi. Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan asas-asas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.
Ayat Al Qur'an tentang logika
Q.S Ar Rad ayat 19
۞ اَفَمَنْ يَّعْلَمُ اَنَّمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ اَعْمٰىۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِۙ
Artinya :
Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.
Dari penjelasan ayat diatas dapat disimpulkan bahwa logika itu berkaitan dengan akal. Keduanya berjalan bersamaan, namun punya porsinya masing-masing. Kemampuan untuk berlogika memang sangatlah dibutuhkan oleh setiap manusia. Orang yang berakal mampu menganalisis lebih baik dari setiap permasalahan. Sehingga Allah sangat menyukai orang yang berfikir secara logika. Sebagai mana dalam hadis berikut ini.
Dari Abu Ya’la yaitu Syaddad Ibnu Aus r.a. dari Nabi saw. Beliau bersabda: “Orang yang cerdas ialah orang yang mampu mengintrospeksi dirinya dan suka beramal untuk kehidupannya setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah Swt. dengan harapan kosong”. (H.R. At-Tirmizi)
Dalam hadis tersebut, Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang pandangannya jauh ke depan, menembus dinding duniawi, yaitu hingga kehidupan abadi yang ada di balik kehidupan fana di dunia ini. Mampu berfikir secara logika tentang seberapa penting menyeimbangkan kehidupan dunia dan juga akhirat.
Contoh nya adalah:
Ketika kita mengejar suatu impian, maka perlu adanya logika di dalamnya. Misalnya, untuk apa kita mengejar impian tersebut?, Apa hasil dari impian itu?. Nah disini kita perlu berpikir cerdas secara logika, menggunakan akal pikiran kita untuk mencapai setiap hal yang baik, agar tidak ada penjelasan dan juga hal buruk dari setiap proses yang kita jalani. Hal ini juga termasuk ke dalam perjalanan dunia, kita harus berfikir secara logika dari setiap kehidupan dan tentunya tetap mengutamakan kehidupan akhirat dengan menjalani hidup dengan ibadah pada Allah semata.
Adapun salah satu contoh logika dalam kehidupan sehari-hari yaitu pernyataan seperti “manusia bisa bertahan tanpa minum selama satu bulan” dari pernyataan tersebut jelas tidak masuk akal, nyatanya manusia normal bisa bertahan selama 3-4 hari tanpa minum, itupun dipengaruhi oleh faktor usia, kesehatan tubuh, cuaca, dll.
B. Pengertian Teori
Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antarvariabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. Labovitz dan Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis” yang mereka definisikan sebagai “menentukan” bagaimana dan mengapa variabel-variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan.
Dalam ilmu pengetahuan, teori dalam ilmu pengetahuan berarti model atau kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alami atau fenomena sosial tertentu. Teori dirumuskan, dikembangkan, dan dievaluasi menurut metode ilmiah. Teori juga merupakan suatu hipotesis yang telah terbukti kebenarannya. Manusia membangun teori untuk menjelaskan, meramalkan, dan menguasai fenomena tertentu (misalnya, benda-benda mati, kejadian-kejadian di alam, atau tingkah laku hewan). Sering kali, teori dipandang sebagai suatu model atas kenyataan (misalnya: apabila kucing mengeong berarti minta makan). Sebuah teori membentuk generalisasi atas banyak pengamatan dan terdiri atas kumpulan ide yang koheren dan saling berkaitan.
Teori merupakan sebuah relasi dari konsep-konsep atau secara lebih jelasnya teori merupakan bagaimana konsep-konsep berhubungan. Hubungan ini seperti pernyataan sebab-akibat (causal statement) atau proposisi. Proposisi adalah sebuah pernyataan teoritis yang memperincikan hubungan antara dua atau lebih variable, memberitahu kita bagaimana variasi dalam satu konsep dipertangggung jawabkan oleh variasi dalam konsep yang lain. Ketika seorang peneliti melakukan tes empiris atau mengevaluasi sebuah hubungan itu, maka hal ini disebut sebuah hipotesis. Sebuah teori sosial juga terdiri dari sebuah mekanisme sebab akibat, atau alasan dari sebuah hubungan, sedangkan mekanisme sebab akibat adalah sebuah pernyataan bagaimana sesuatu bekerja.
Salah satu contoh teori yang terkenal adalah "teori Big Bang".
Setelah ledakan, terjadi proses evolusi bintang hingga terbentuk matahari beserta tata planet termasuk bumi. Peristiwa ledakan yang terjadi pada masa itu disebut t=0 yang menjadi awal perhitungan waktu dan menghasilkan hidrogen. Dalam proses evolusi bintang, hidrogen mengalami reaksi nuklir menghasilkan helium dan membentuk unsur lain dalam semesta.
Menurut Prof Thomas, berbagai ayat penciptaan langit dan bumi dijelaskan teori Big Bang menurut perkembangan ilmu saat ini. Karena itu, kelak bisa saja muncul teori baru yang juga bisa menjelaskan ayat tersebut.
Ayat Al- Qur'an yang membahas tentang teori tersebut adalah:
Q.S. Al Anbiya ayat 33.
وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ
Artinya:
Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya.
Begitulah al-Qur’an menjelaskan secara rinci mengenai ilmu pengetahuan. “Al-Qur’an telah menjadi gagasan dalam setiap teori yang tercipta di dunia ini. sehingga dalam pengembangan teori, perlu adanya pemahaman ilmu yang baik, sebagai dalam hadis berikut ini :
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
Artinya:
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang ilmu agama.” Hadist ini datang dari sahabat Muawiyyah Radhiallahu Anhu. [HR. Bukhari no. 71 dan Muslim No. 1037].
Dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui teori lebih lanjut haruslah ada ilmu yang cukup, agar dapat memahami setiap teori yang telah ada. Hal ini merupakan salah satu cara untuk mempercayai suatu teori dengan baik, agar tidak ada salah dalam penerimaan informasi dari setiap teori.
C. Perbedaan Logika Filsafat dan Saintifika
Logika Filsafat adalah berfikir secara logika menggunakan pemikiran- pemikiran manusi. Adapun logika sering diartikan sebagai suatu cara bernalar secara sistematis,
atau tepatnya cara untuk mencari jalan, guna tercapainya ilmu yang benar. Karena kedua hal tersebut tidaklah mungkin dapat dispisahkan, karena keduanya saling melengkapi satu sama lainnya. Jadi logika, ialah jalan untuk mencapai pengetahuan yang benar, dan ilmu yang benar membutuhkan logika.
Filsafat sendiri tidak dapat didefinisikan secara pasti, karena ia
berkaitan dengan masing-masing filsuf yang berkaitan dengannya. Seperti
Plato, yang menyatakan filsafat sebagai ilmu yang berusaha meraih sebuah
kebenaran yang murni. Adapun menurut Aristoteles, ia adalah suatu ilmu pengetahuan yang berusaha mencari prinsip-prinsip dan penyebab dari
adanya suatu realitas. Namun secara singkat kita dapat mendefinisikannya
sebagai suatu ilmu pengetahuan yang berusaha memahami hakekat alam, dan realitas, serta membawa manusia untuk menelusuri batas-batas kemanusiaan, dan mengimani batas-batas ketuhanan, yang artinya ia sangat berkaitan dengan rasio dalam menalar dan iman dalam meyakini.
Sementara Saintifika adalah suatu anggapan yang mengatakan bahwa suatu pengetahuan yang
ada pada derajat keilmiahan tertinggi adalah sains. Adapun posisi logika merupakan alat control, dan baca ilmu pengetahuan, namun ia tidak sepenuhnya mutlak sebagai dasar dari sains yang ada. Dalam pandangan ini filsafat, dinilai menolak untuk menerima apapun yang tidak bisa diketahui secara jelas, dan terpilah-pilah. Sehingga suatu ilmu pengetahuan haruslah
merupakan suatu hal yang diafirmasi oleh bukti-bukti yang nyata, dan dapat dipertanggung jawabkan secara rasional.
Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwasanya peran
filsafat adalah memeriksa prinsip-prinsip yang digunakan oleh para pemikir dalam mengolah data, analisis, dan pengambilan kesimpulan teoritis dari sebuah penelitian. Dengan kata lain, filsafat menilai proses kerja, dan logika internal dalam dunia penelitian saintifik. Selain itu, ia juga memungkinkan uttuk memeriksa efek-efek dari suatu ilmu pengetahuan dan dampaknya terhadap eksistensi kehidupan manusia.
D. Logika Filsafat dan Saintifika dalam Pendidikan Islam.
Sebagai Disiplin Ilmu Filsafat, Filsafat Pendidikan Islam mempunyai sumber-sumber dasar pijakan yang dijadikan rujukan operasional disiplinnya. Filsafat pendidikan ini adalah dalam lingkup Islam, maka sudah barang tentu ia mengikuti ajaran islam dalam pembahasan masalah-amsalahnya. Ajaran dan pendidikan islam itu sendiri bersumber pada al-Qur’an dan al-Hadis, maka kita akan mendapati keduanya sebagai rujukan utama dalam isu-isu filsafat pendidikan Islam.
Filsafat pendidikan Islam terbentuk dari perkataan filsafat, Pendidikan dan Islam. Penambahan kata Islam di akhir itu untuk membedakan filsafat pendidikan Islam dari pengertian filsafat pendidikan secara umum. Dengan demikian filsafat pendidikanIislam mempunyai pengertian secara khusus yang ada kaitannya dengan ajaran Islam.
Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran IMPLEMENTASI PENDEKATAN SCIENTIFIC DALAM PEMBELAJARAN PAI Kesadaran untuk menerapkan pendekatan sain atau scientific pada semua mata pelajaran termasuk juga pada pelajaran PAI didasarkan pada sebuah kenyataan bahwa proses pembelajaran PAI masih belum bisa mengembangkan potensi afektif dan psikomotorik siswa secara maksimal. Dataran kognitif masih menjadi sasaran paling banyak pada materi dan penguasaaanya. Pendidikan agama masih dilihat dari dimensi ritual saja dan jauh dari pengayaan spiritual, etik dan moral sehingga peserta didik secara verbal dapat memahami ajaran Islam serta terampil melaksanakannya, akan tetapi kurang menghayati kedalaman maknanya.
Wallahu A'lam Bishowab
Terimakasih...
Komentar
Posting Komentar