Rangkuman Bab 1 dalam Buku Filsafat Pendidikan Akhlak, Karya DR. Sehat Sultoni Dalimunthe, M.A.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Nama : Fitri Yani Sihombing
Nim    : 1920100084
Ruang : Filsafat Ilmu PAI 4
Dosen Pengampu : Dr.  Sehat Sultoni Dalimunthe, M.A.
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PADANGSIDIMPUAN


A. Pendidikan
     Ahmad Tafsir menyebutkan pendidikan Islam sangat luas, yaitu Filsafat Pendidikan Islam, Ilmu Pendidikan Islam dan Manual Pendidikan Islam. Hiearki pendidikan Islam tersebut dari yang  
abstrak menuju yang sangat konkrit. Pada tingkatan yang paling bawah sudah operasional sekali dan tidak boleh lagi ada multi tafsir.
      Menurut Azyumardi Azra, ilmu pendidikan Islam dilihat dari sifat dan coraknya dibagi empat. Pertama, ilmu pendidikan Islam normatif yang bersumber dari kandungan Al-Qur’an dan hadis. Kedua, ilmu pendidikan filosofis yang bersumber dari pemikiran hadis. pemikiran Ketiga, ilmu pendidikan Islam historis yang yang
bersumber dari data dan fakta sejarah yang bisa dilacak akar-akarnya. Keempat, ilmu pendidikan aplikatif yang tujuannya untuk menerapkan teori-
teori pendidikan dalam praktik belajar-mengajar.
      
Istilah pendidikan Islam dalam Konferensi Dunia Tentang Pendidikan Islam di Jeddah tahun 1979 
merekomendasikan tiga term, yaitu:

1. At-Tarbiyyah

    Ketika ditelusuri dalam Alquran, kata yang berasal dari “ra-ba-ba” ternyata sangat banyak, disebutkan 1241 kali. Hal ini dapat dipahami, mengingat salah satu nama Allah adalah “rabbun”, yaitu Tuhan yang selalu berperan dalam segala hajat manusia. 
      Kembali pada istilah al-tarbiyah yang disebutkan oleh al-Raghib al-
Ashfahani, bahwa pendidikan adalah sesuatu yang never ending process, karena itu ia tidak pernah sempurna, ia hanya mempunyai hadd al- tamam. Untuk itulah proses pendidikan tidak boleh berakhir dan harus berkelanjutan. Bukan berarti kalau sudah Profesor berhenti menjalani proses menjalani proses pendidikan. Lihatlah  
bahwa Profesor itu pun punya tugas sampai mati. Tugasnya untuk mengembankan ilmu sesuai bidangnya masing-masing.
       Munasabah kata rahmah dengan “al-tarbiyah” dalam konteks pendidikan bisa bernilai positif dan bisa juga bernilai negatif. Positif, jika dalam proses  pendidikan dipenuhi dengan nuansa kasih sayang, sehingga sentuhan  psikologis tersebut dapat berakibat positif dalam pendidikan. Negatif, jika  dalam proses pendidikan dibumbui dengan nuansa permisifivitas atas faktor keterikatan psikologis. 
       Dalam perspektif filsafat pendidikan akhlak, tujuan pendidikan akhlak paling rendah adalah “menghadirkan kasih sayang”. Orang yang berakhlak   mulia, paling rendah, dalam dirinya memiliki rasa kasih sayang (ar-rahmah).  
Kasih sayang ini adalah bagian yang penting dan positif dalam pendidikan (tarbiyah). 
Khalid ibn Hamid al-Hazimi dalam Ushûl al-Tarbiyyah al-Islāmiy dalam Ushûl al-Tarbiyyah al-Islāmiyyah menyebutkan bahwa dalam Alquran kata al-tarbiyyah maknanya ada dua, yaitu  
sinergi dari al-hikmah, al-`ilm, dan al-ta`lîm. Al-Hazimi menyandarkan pendapatnya berdasarkan Q.S. Ali Imran/3:79

يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ

Artinya, “….Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang
rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajari nya.

       Ibn Abbas sebagaimana dikutip al-Hazimi menyebutkan bahwa rabbaniyin adalah al-hukamâ’ (ahli hikmah), `ulamâ’, dan hulamâ’(orang-orang ) yang lembut hatinya). Al-Dhahhaq menurut al-Hazimi menafsirkan “tu`allimûna” berarti “tufahhimûna”. Dapat dipahami bahwa pendidikan berusaha
menghasilkan orang-orang bijaksana (al-hikmah), orang-orang berilmu, dan orang-orang yang lembut hatinya Di sini terlihat kecenderungan kecerdasan  emosional daripada kecerdasan intelektual. Kecerdasan emosional itu diwakili  
al-hikmah dan al-hilm. Sementara kecerdasan intelektual diwakili al-`ilm. Kemudian yang disebut berilmu, tidak sekadar hafal, tetapi harus paham.  Sampai tidaknya target pengajaran, peserta didik harus paham pelajaran. 

2. Ta`lim

     Kata yang berasal dari “`ain-lam-mim” disebutkan 582 kali dalam Alquran. Penyebutan ini pun berhubungan dengan ilmu yang berarti  
pengetahuan, juga Allah salah satu namanya al-`alīm. Yang mengajar atau yang melakukan pekerjaan ta`līm itu Allah, seperti jelas disebutkan oleh Nabi Yusuf dalam Q.S. Yusuf/12:37 bahwa Allah yang  mengajarkannya menafsirkan mimpi. Dalam Q.S. al-Baqarah/2:239  disebutkan bahwa Allah mengajarkan salat dalam keadaan tidak aman (khauf)  dan juga dalam keadaan aman. Dalam Q.S. al-Baqarah/2:282 disebutkan  bahwa Allah telah mengajarkan cara berutang piutang. Dalam Q.S. al- Maidah/5:4 disebutkan bahwa Allah telah mengajarkan bagaimana makan  binatang buruan.
       Dari uraian di atas, jelas bahwa pekerjaan ta`lim tidak selamanya positif ada juga yang negatif dengan tujuan mengelabui, menyesatkan, mendatangkan  dosa. Ilmu yang diajarkan untuktujuan tidak baik dan yang diajarkan tertarik  untuk melakukannya adalah sihir setan”.Ini yang tidak boleh diajarkan. Pengetahuan yang didapatkan langsung dari Allah dikenal dengan “`ilmu huduri”. ‘Ilmu huduri datangnya dari Allah. Ilmu yang datang dari-Nya  
tentulah kualitas kebenarannya paling tinggi dan tidak mungkin salah. Secara epistemologis, `ilmu huduri yang didapatkan oleh manusia biasa lewat ilham, harus bisa diuji kebenarannya secara ilmiah. 
         Ta`lîim dalam Alquran bisa bermakna “mengajarkan secara perlahan- lahan (berulang-ulang dalam jumlah yang banyak), sehingga dapat membekas  dalam jiwa pelajarannya”. Hal ini dapat dilihat dalam Q.S. al-Māidah/5:4 dan 110. 

يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَآ اُحِلَّ لَهُمْۗ قُلْ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِيْنَ تُعَلِّمُوْنَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللّٰهُ فَكُلُوْا مِمَّآ اَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
Artinya :
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, ”Yang dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

       Dalam Q.S. Yusuf/12: 89, kata `alima berarti mengetahui tanpa membutuhkan kekuatan rasio,10 tetapi membutuhkan ingatan terhadap yang  telah dilakukan. Mengingat sesuatu yang pernah dilakukan tidak membutuhkan kekuatan mengolah informasi dengan logika.

3. Ta`dib

      Istilah adab dikenal dalam peradaban Arab sejak pra Islam, terkadang diartikan dengan etika. Ta`dīb bisa disebut proses menjadikan seseorang  beradab dalam pengertian berakhlak mulia. Jika dipahami adab sinonim dari  akhlak dan tujuan akhir (aims) pendidikan adalah akhlak, maka tidak  sepenuhnya salah, walaupun tetap tidak juga mencakup unsur-unsur  pendidikan lainnya seperti pendidikan akal. Kata adab juga terkadang diterjemahkan menjadi juga terkadang diterjemahkan menjadi moral. Amin Rais contohnya menerjemahkan adab al-‘ilmi dengan moral keilmuan.Dalam bahasa Inggris, moral diartikan, yang memperhatikan prinsip-prinsip benar-salah. Pengertian ini dalam filsafat sama dengan logika.

     Menurut al-Attas, ta’dīb artinya luas sekali mencakup mendidik, undangan perjamuan, kebudayaan, tata tertib sosial, kehalusan budi, kebiasaan  yang baik, menghias, ketertiban, kepantasan, kemanusiaan, dan kesusastraan.  
Para ulama juga ada yang mengartikan dengan kepintaran, kecerdasan, dan kecerdikan. Untuk itu dalam bahasa Arab sastrawan itu disebut dengan adīb

4. Tadris

     Apakah penggunaan
konsep “tadrīs” yang berbeda dengan “at tarbiyyah” dengan sengaja dibedakan
secara filosofis atau sekadar adanya pemahaman bahwa mata pelajaran itu
atau mata kuliah dikenal dengan sebutan “darsun”, sehingga disebut jurusannya tadrīs? Berikut ini akan dilihat bagaimana Alquran berbicara  tentang tadrīs. Dalam Alquran dijumpai kata yang asalnya dari “da-ra-sa” dalam  bentuk, “tadrusūn” dalam Q.S. Ali Imran/3:79 dan al-Qalam/68:37, “darasta”  dalam Q.S. al-An`am/6:105, “darasū” dalam Q.S. al-A`raf/7:169, dan  “yadrusuna” dalam Q.S. Saba/34:44.  
Al-Asfahani menyebutkan kata tadrīs harus meninggalkan bekas (baqāu al-atsar). Dari yang dipelajari ada yang membekas dengan hafalan. Pelajaran  membekas juga denganpemahaman dan pengamalan.Dus,penekanan tadris tertanamnya pelajaran baik melalui hafalan atau pemahaman atau pengalaman.

B. Akhlak Wa Akhatuha
 1. Dari beberapa istilah

     Kata akhlak, etika, adab, moral, sopan-santun, dan bahkan karakter sudah lama digunakan oleh banyak orang tanpa mempersoalkan identitas  
yang detail dari semua istilah itu, tetapi kata-kata itu di tangan para akademisi mulai diperbincangkan secara kritis tekanan masing-masing istilah dari sisi  persamaan dan perbedaannya. 
      Sebelum peradaban Islam, telah telah lahir peradaban Yunani. Pada masa peradaban Yunani sudah dikenal dan sudah digunakan istilah etika.
Dari keenam istilah lainnya. Moral dikenal dari bahasa Latin, tetapi tidak dikenal ada orang yang  berteori tentang moral, sebagaimana filosof Yunani berbicara tentang teori  etika. Istilah ini diduga dikenal luas di abad pertengahan. Contohnya Kant telah berbicara tentang ”moral knowledge: moral pengetahuan” tahun 1687.21 
Adapun istilah karakter tidak diketahui persis kelahirannya, tetapi buku-buku yang menulis tentang karakter itu baru muncul pada zaman modern,  khususnya pada abad ke-20.

      Etika dalam bahasa Arab disebut “adab”. Arti adab ini berkembang seiring dengan evolusi cultural bangsa Arab dan tidak pernah memiliki arti  yang baku. Pemaknaannya yang paling awal, disebutkan adab adalah  mengimplementasikan suatu kebiasaan, suatu norma tingkah laku praktis yang  dipandang terpuji dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam perkembangannya kata “adab” dalam pendidikan bermakna dua, yaitu  pendidikan anak-anak, sehingga gurunya disebut muaddib dan yang pendidikan untuk orang dewasa yang bermakna aturan tingkah laku praktis yang dipandang menentukan kesempurnaan kualitas proses pendidikan.
     
     Kata “adab” juga terkadang diterjemahkan menjadi moral. Amin Rais contohnya menerjemahkan adab al-‘ilmi dengan moral keilmuan. Dalam  bahasa Inggris, moral diartikan, yang memperhatikan prinsip-prinsip benar- salah. Pengertian ini dalam filsafat sama dengan logika.
       Dalam banyak hal istilah etika, moral, dan karakter dalam sumber- sumber “umum” tidak begitu jelas perbedaannya, kecuali dalam beberapa hal.  Contohnya, etika biasa digunakan dalam bidang filsafat. Ketika berhubungan 
dengan penggunaan pengetahuan atau ilmu, disebut dengan moral dan terkadang juga disebut dengan etika.  Adapun karakter dalam bahasa Arab disebut akhlak, watak, dan atau kepribadian. Secara istilah, karakter itu kumpulan keunggulan seseorang yang  dilakukan secara terus-menerus.
       Zaqzouq mendefinisikan akhlak sebagai ilmu yang menjelaskan kehidupan yang berhubungan dengan perilaku (al-akhlāqiyah), membantu  
untuk mengetahui tujuan akhir dari hidup, menjelaskan standar hukum perilaku dalam perbuatan. Secara singkat katanya yang menjelaskan tentang  baik dan buruk, memberi gambaran perilaku yang baik untuk dicontoh.

2. Teori Dasar Akhlak

     Menurut filosof Prancis, Hendri bahwa sumber dari akhlak dalam hal ini moral ada dua, yaitu daya tekanan sosial dan daya ketertarikan  
kelemahlembutan manusiawi bersandarkan bantuan ketuhanan. Kemudian Hendri menyebutkan hal yang demikian itu sebagai adat yang wajib  ditunaikan. 
Kedua perspektif ilmu akhlak agama dan filsafat tidak perlu
dipertentangkan karena menurut Zaqzouq ilmu akhlak falsafi tidak menolak
secara mutlak akhlak agama yang dasarnya wahyu. Salah besar katanya jika
mengatakan bahwa keduanya bertentangan. Lebih lanjut ia mengatakan tidak mungkin bertentangan jika sumbernya adalah sama. Ilmu Akhlak Agama  sumbernya dari Allah, sementara akal juga sumbernya dari Allah, hanya saja satu sama lain saling melengkapi. Tidak mungkin keduanya saling tidak  
membutuhkan. Keduanya dalam Alquran berjalan secara berdampingan.

 3. Suluk, Dhamīr, dan Iradah
      dhamīr bisa dikembangkan dengan meningkatkan pengetahuan dan mendidik akal agar  bisa berpikir logis. Kemudian, dhamīr itu juga ditingkatkan dengan  menciptakan adat dan budaya yang baik. Dalam menciptakan budaya yang  baik inilah dibutuhkan disiplin. Artinya, disiplin bisa diciptakan sebagai proses  budaya yang baik. Dhamīr sangat akrab dengan bangunan budaya yang disebut  adat. Adat itu adalah kebiasaan baik yangdipandang oleh suatu tatanan nilai. Tatanan nilai yang universal itu adalah agama.

4. Niat dan Hasil Perbuatan
    Menurut Ahmad Amin dalam teori akhlak, baik buruknya suatu
perbuatan dilihat dari tujuannya atau niatnya bukan hasilnya. Untuk itu dapat
dipahami bahwa hadis “innamā al-a`mālu bi al-niyāt: sesungguhnya perbuatan
itu dilihat dari niatnya” adalah dalil teori akhlak. Memang sekadar niat baik tentu tidak cukup, tetapi niat baik yang dilakukan secara profesional. Hal ini  disebutkan oleh Ahmad Amin bahwa orang yang berencana baik atau berniat  
baik, harus secara bersungguh-sungguh mengetahui apa dampak yang akan
dihasilkan dari perencanaan itu jika telah dilaksanakan.

5. Menilai yang Baik
Dalam sejarah manusia, al-`urf disebut sebagai alat ukur kebaikan.
Ziarah kubur pada hari lebaran adalah adat kebiasaan orang-orang Mesir.
Setiap umat memiliki adat kebiasaan yang berbeda-beda. Bagi mereka mengukur kebaikan itu sesuai dengan adat, jika bertentangan dengan adat,  maka disebut tidak baik atau buruk.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, maka standard untuk menentukan yang baik itu tidak lagi adat, tetapi naluri manusia pun dapat  
membedakan mana yang baik dan yang buruk. Selanjutnya ilmu pengetahuan pun mengatakan bahwa akal manusia dapat menjangkau mana yang baik dan  yang buruk, apalagi dengan menggunakan dalil-dalil agama, semakin mudah  
menilai yang baik dan yang buruk. Teori akhlak berkembang secara bertahap kata Ahmad Amin sesuai dengan perkembangan ilmu peradaban manusia. 




Barakallah fiiukum...








Komentar

Postingan populer dari blog ini

LOGIKA FILSAFAT dan SAINTIFIKA

Aksiologi Filsafat ilmu