Aksiologi Filsafat ilmu

 Ditulis oleh Fitri Yani Sihombing

Nim 1920100084, Mahasiswa IAIN Padangsidimpuan.


 A. Pengertian Aksiologi

Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.[1] Jadi yang ingin dicapai oleh aksiologi adalah hakikat dan manfaat yang terdapat dalam suatu pengetahuan.

Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai-nilai.

Aksiologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi: nilai kegunaan ilmu, penyelidikan tentang prinsip-prinsip nilai. Secara etimologis, istilah aksiologi berasal dari Bahasa Yunani Kuno, terdiri dari kata "aksios" yang berarti nilai dan kata "logos" yang berarti teori. Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai.

 1. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Berikut ini dijelaskan beberapa definisi aksiologi. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial dan agama. Sistem mempunyai rancangan bagaimana tatanan, rancangan dan aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap satu institusi dapat terwujud. 

2.  Menurut Suriasumantri aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang di peroleh. 

3 . Aksiologi dibagi kepada tiga bagian menurut Sumantri, yaitu: (1) Moral Conduct (tindakan moral), bidang ini melahirkan disiplin ilmu khusus yaitu "ilmu etika" atau nilai etika. (2) Esthetic Expression (Ekspresi Keindahan), bidang ini melahirkan konsep teori keindahan atau nilai estetika. (3) Sosio Political Live (Kehidupan Sosial Politik), bidang ini melahirkan konsep Sosio Politik atau nilai-nilai sosial dan politik. 4 Aksiologi adalah suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia dan menjaganya, membinanya di dalam kepribadian manusia. Socrates berpendapat bahwa masalah yang pokok adalah kesusilaan, tetapi semenjak masa hidup socrates masalah hakikat yang-baik senantiasa menarik banyak kalangan dan dipandang bersifat hakiki serta penting untuk dapat mengenal manusia. 5 Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan. Sejalan dengan itu, Sarwan menyatakan bahwa aksiologi adalah studi tentang hakikat tertinggi, realitas, dan arti dari nilai-nilai (kebaikan, keindahan, dan kebenaran). Dengan demikian aksiologi adalah studi tentang hakikat tertinggi dari nilai-nilai etika dan estetika.


B. Aspek Aksiologi

Aspek aksiologi filsafat membahas tentang masalah nilai atau moral yang berlaku dikehidupan manusia. Dari aksiologi, secara garis besar muncullah dua cabang filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia yaitu etika dan estetika.


1. Etika

Etika adalah salah satu cabang ilmu fisafat yang membahas moralitas nilai baik serta juga buruk, etika tersebut bisa di definisikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan manusia juga masyarakat yang mengatur tingkah lakunya. Etika berasal dari dua kata yakni ethos(sifat, watak, kebiasaan) dan ethikos(susila, keadaban atau kelakuan dan perbuatan yang baik).

Dalam istilah lain dinamakan dengan sebutan moral yang berasal dari bahasa latin mores jamak dari mos yang memiliki arti adat, kebiasaan. Dalam bahasa arab disebut dengan sebutan akhlaq yang memiliki arti budi pekerti dan dalam bahasa Indonesia disebut dengan sebutan tata susila.

Dalam hal tersebut ada berbagai pembagian etika yang dibuat oleh para ahli etika, beberapa para ahli membagi ke dalam dua bagian, yakni :

a.Etika deskriptif

Etika deskriptif merupakan cara melukiskan tingkah laku moral. misalnya: adat kebiasaan, anggapan mengenai baik atau buruk, tindakan yang di perbolehkan atau tidak. Etika deskriptif ini mempelajari moralitas yang terdapat pada individu dan kebudayaan. Oleh sebab itu, etika deskriptif ini tidak memberikan penilaian apapun, ia hanya menyampaikan atau memaparkan dan lebih bersifat netral. Contohnya, penggambaran mengenai suatu adat mangayau kepala pada suku primitive.

Etika deskriptif dibagi ke dalam dua bagian: pertama, sejarah moral yang meneliti cita-cita dan norma-norma yang pernah di berlakukan didalam kehidupan manusia pada kurun waktu dan suatu tempat tertentu atau dalam suatu lingkungan besar yang mencakup beberapa bangsa. Kedua, sejarah moral yang berupaya untuk menemukan arti serta makna moralitas dari berbagai fenomena moral yang ada.

b.Etika normatif

Etika normatif ini mendasarkan pendiriannya atas norma. Ia dapat mempersoalkan norma yang diterima seseorang atau juga masyarakat itu dengan secara lebih kritis dan dapat mempersoalkan apakah norma itu benar atau juga tidak. Etika normatif memiliki arti sistem-sistem yang dimaksudkan untuk dapat memberikan petunjuk atau penuntun dalam mengambil suatu keputusan yang menyangkut baik atau buruk.

Etika normatif ini disebut dengan filsafat moral atau etika filsafati. Etika normatif ini dapat dibagi kedalam dua teori, yakni teori nilai(mempersoalkan sifat kebaikan) dan teori keharusan(tingkah laku). Adapula yang membagi etika normative ini kedalam dua golongan, yakni konsekuensialis dan nonkonsekuensialis.

-Konsekuensialis berpendapat bahwa moralitas suatu tindakan ditentukan oleh konsekuensinya

-Nonkonsekuensialis berpendapat bahwa moralitas suatu tindakan ditentukan oleh sebab-sebab yang menjadi dorongan tindakan tersebut atau ditentukan oleh sifat-sifat hakikinya oleh keberadaan yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan serta prinsip-prinsip tertentu.


2.Estetika

Estetika adalah salah satu cabang ilmu fisafat yang mempersoalkan seni serta keindahan. Istilah estetika berasal dari kata Yunani aesthesis yang berarti pemahaman intelektual atau pengamatan spiritual. Estetika memberikan perhatian pada sifat keindahan, seni, rasa, selera, kreasi serta apresiasi mengenai suatu keindahan.

Secara ilmiah, estetika didefinisikan sebagai ilmu mengenai nilai-nilai yang dihasilkan dari emosi-sensorik yang biasa dikenal dengan sebutan sentimentalis atau cita rasa(selera).

Estetika dibagi dalam dua bagian, yakni :

-Estetika deskriptif menguraikan serta melukiskan fenomena-fenomena pengalaman keindahan

-Estetika normatif mempersoalkan serta menyelidiki hakikat, dasar, dan ukuran pengalaman keindahan.

Adapula yang membagi estetika kedalam filsafat seni (philosophy of art) serta filsafat keindahan (philosophy of beauty). Filsafat seni menitik beratkan status ontologis dari karya-karya seni serta juga memepertanyakan pengetahuan apakah yang dihasilkan oleh seni dan apakah yang dapat diberikan oleh seni untuk menghubungkan manusia dengan realitas. Filsafat keindahan membahas mengenai apakah keindahan itu ada, apakah nilai indah itu objektif atau subjektif.



Terimakasih.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

LOGIKA FILSAFAT dan SAINTIFIKA

Rangkuman Bab 1 dalam Buku Filsafat Pendidikan Akhlak, Karya DR. Sehat Sultoni Dalimunthe, M.A.