Urgensi Filsafat Ilmu dalam Ilmu Pendidikan
Urgensi
Filsafat Ilmu dalam Ilmu Pendidikan
Fitri Yani Sihombing, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas
Tarbiyah dan Ilmu keguruan, Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan. Email:
fitriyanisihombing13@gmail.com
Abstrack
The philosophy of science has a very important role
in human reasoning to build science. Because, the Philosophy of Science will
investigate, explore, and explore as deep, far and wide as possible all about
the nature of science. In this case, we can get an idea that the philosophy of
science is the root of all science and knowledge. Some views on the philosophy
of science, including the philosophy of science, are a critical review of
scientific opinions. Philosophy of science is the comparison or development of
past opinions against present opinions supported by scientific evidence. The
philosophy of science is a description of the assumptions and tendencies that
cannot be separated from the thinking of the scientists who research it.
Abstrak
Filsafat Ilmu sangat penting peranannya terhadap penalaran manusia untuk
membangun ilmu. Sebab, Filsafat Ilmu akan menyelidiki, menggali, dan menelusuri
sedalam, sejauh, dan seluas mungkin semua tentang hakikat Ilmu. Dalam hal ini,
kita bisa mendapatkan gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan akar dari semua
ilmu dan pengetahuan. Beberapa pandangan mengenai Filsafat Ilmu diantaranya
Filsafat Ilmu merupakan suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah.
Filsafat ilmu adalah pembandingan atau pengembangan pendapat-pendapat masa
lampau terhadap pendapat-pendapat masa sekarang yang didukung dengan
bukti-bukti ilmiah. Filsafat ilmu merupakan paparan dugaan dan kecenderungan
yang tidak terlepas dari pemikiran para ilmuwan yang menelitinya.
PENDAHULUAN
Filsafat sering sekali dipandang sebagai pemikiran
yang membingungkan bahkan menyesatkan umat manusia. Pandangan semacam ini
tentunya sangat disayangkan, karena filsafat secara esensial justru sangat
penting artinya bagi kehidupan manusia, khususnya dalam menyelesaikan berbagai
persoalan kemanusiaan. Filsafat secara umum adalah berpikir secara menyeluruh,
men- dalam, radikal dan rasional, tentang sesuatu. Menurut Syamsuddin Arif dan
Dinar Dewi Kania dalam Adian Husaini, filsafat itu mencari kebenaran. Dengan
bertanya secara terus menerus tentang segala hal, dari persoalan gajah sampai
persoalan semut, dari soal hukum, dan politik hingga soal moral dan metafisika
dan sebagainya.1 Rizal dan Misnal yang dikutip Himyari Yusuf juga menge-
mukakan bahwa filsafat merupakan sebuah disiplin ilmu yang terkait dengan
perihal kebijaksanaan. Sedangkan kebijaksanaan merupakan titik ideal dalam
kehidupan manusia, karena ia dapat menjadikan manusia untuk bersikap dan
bertindak atas dasar pertimbangan kemanusiaan yang tinggi.2 Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa filsafat adalah berpikir secara menyeluruh, radikal dan
rasional sebagai proses yang tanpa henti untuk mencari kebenaran secara terus
menerus dan pada akhirnya dapat memahami makna segala sesuatu termasuk makna
kehidupan manusia.[1]
Berdasarkan pengertian Filsafat di atas, dapat
dipahami bahwa jika istilah filsafat dilekatkan dengan Islam atau yang disebut
filsafat Islam, maka filsafat Islam adalah berpikir secara menyeluruh, radikal
dan rasional sebagai proses yang tanpa henti[2]
untuk mencari kebenaran secara terus menerus dan pada akhirnya dipahami makna
segala sesuatu termasuk makna kehidupan manusia dan seluruh rangkaian yang
terkait dengannya. Tegasnya dapat dikatakan, filsafat Islam pada tataran
ontologis adalah hakikat manusia dan kemanusian, dan pada tataran epistemologis
bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah Nabi- Nya, selain potensialitas indera,
akal, hati (intuisi), dan pada tataran aksilogis adalah bernilai guna bagi kesejahteraan
hidup manusia lahir dan batin (jasadiah dan ruhaniah).
Ontologi sering disebut filsafat hakikat. Hakikat yang
dimaksud adalah realitas. Realitas adalah sesuatu yang ril ada. Masyarakat pendapat para ahli tentang manusia
dan pendidikan dibicarakan untuk bagaimana semestinya manusia mendapat pendidikan.
Pengertian hakikat dan filsafat pendidikan dibicarakan untuk memahami secara
mendasar makna hakikat dan filsafat pendidikan Islam. Teori hakikat dibicarakan
untuk memahami variasi pendapat tentang teori hakikat dan jika memungkinkan
memilih yang terbaik darinya. Sedangkan hakikat manusia dan masyarakat adalah
dua hal yang inti dibicarakan dalam filsafat pendidikan Islam.[4]
PEMBAHASAN
Filsafat ilmu sangat penting
peranannya terhadap penalaran manusia untuk membangun ilmu. Filsafat pendidikan
hanya bisa menjadi signifikan ketika pendidik mengenali perlunya berpikir
secara jernih tentang apa yang sedang mereka lakukan. Kemudian melihat relasi
antara apa yang sedang mereka kerjakan dengan konteks individu dan perkembangan
sosial yang lebih luas. Dalam konteks inilah, praktik memperluas teori dan
mengarahkannya untuk mendapatkan kemungkinan-kemungkinan yang baru.
Para pendidik harus memahami bahwa
filsafat pendidikan juga memberikan sesuatu yang berbeda dalam wawasan dan
aktivitas pendidikan itu sendiri. Maka perlunya menggunakan ide-ide filosofis
dan pola-pola pemikiran agar dapat menjadikan aktivitas mereka pada taraf
kesadaran etis. Bukannya sekedar rutinitas. Hanya saja ini tidak berarti bahwa
pendidik harus menerima pemikiran filsafat apa adanya. Mereka harus tetap
menguji pemikiran filsafat sesuai dengan konteks sosial peserta didik. Ketika
kondisi berubah maka perspektif dan wawasan harus diuji kembali.
1.Pendidikan dalam Praktek
Memerlukan teori
Alangkah pentingnya kita berteori
dalam praktek di lapangan pendidikan karena pendidikan dalam praktek harus
dipertanggungjawabkan. Tanpa teori dalam arti seperangkat alasan dan rasional yang
konsisten dan saling berhubungan maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya
didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan, seketika dan aji mumpung. Hal itu
tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan
nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik. Bahkan pengajaran yang baik
sebagai bagian dari pendidikan selain memerlukan proses dan alasan rasional
serta intelektual juga terjalin oleh alasan yang bersifat moral. Sebabnya ialah
karena unsur manusia yang dididik dan memerlukan pendidikan adalah makhluk
manusia yang harus menghayati nilai-nilai agar mampu mendalami nilai-nilai dan
menata perilaku serta pribadi sesuai dengan harkat nilai-nilai yang dihayati
itu.
2. Landasan Sosial dan Individual
Pendidikan
Pendidikan sebagai gejala sosial
dalm kehidupan mempunyai landasan individual, sosial dan cultural. Pada skala
mikro pendidikan bagi individu dan kelompok kecil beralngsung dalam skala
relatif tebatas seperti antara sesama sahabat, antara seorang guru dengan satu
atau sekelompok kecil siswanya, serta dalam keluarga antara suami dan isteri,
antara orang tua dan anak serta anak lainnya. Pendidikan dalam skala mikro
diperlukan agar manusia sebagai individu berkembang semua potensinya dalam arti
perangkat pembawaanya yang baik dengan lengkap. Manusia berkembang sebagai
individu menjadi pribadi yang unik yang bukan duplikat pribadi lain. Tidak ada
manusia yang diharap mempunyai kepribadian yang sama sekalipun keterampilannya
hampir serupa. Dengan adanya individu dan kelompok yang berbeda-beda diharapkan
akan mendorong terjadinya perubahan masyarakat dengan kebudayaannya secara
progresif. Pada tingkat dan skala mikro pendidikan merupakan gejala sosial yang
mengandalkan interaksi manusia sebagai sesama (subyek) yang masing-masing
bernilai setara. Tidak ada perbedaan hakiki dalam nilai orang perorang karena
interaksi antar pribadi (interpersonal) itu merupakan perluasan dari interaksi
internal dari seseorang dengan dirinya sebagai orang lain, atau antara saya
sebagai orang kesatu (yaitu aku) dan saya sebagai orang kedua atau ketiga
(yaitu daku atau-ku; harap bandingkan dengan pandangan orang Inggris antara I
dan me).
3. Dasar- dasar Filsafat Ilmu
Pertama-tama pada latar filsafat
diperlukan dasar ontologis dari ilmu pendidikan. Adapun aspek realitas yang
dijangkau teori dan ilmu pendidikan melalui pengalaman pancaindra ialah dunia
pengalaman manusia secara empiris. Objek materil ilmu pendidikan ialah manusia
seutuhnya, manusia yang lengkap aspek-aspek kepribadiannya, yaitu manusia yang
berakhlak mulia dalam situasi pendidikan atau diharapokan melampaui manusia
sebagai makhluk sosial mengingat sebagai warga masyarakat ia mempunyai ciri
warga yang baik (good citizenship atau kewarganegaraan yang sebaik-baiknya).
Kedua Dasar epistemologis diperlukan oleh pendidikan atau pakar ilmu pendidikan
demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab. Sekalaipun
pengumpulan data di lapangan sebagaian dapat dilakukan oleh tenaga pemula
namuntelaah atas objek formil ilmu pendidikan memerlukaan pendekatan
fenomenologis yang akan menjalin stui
empirik dengan studi kualitatif-fenomenologis. Pendekaatan fenomenologis itu
bersifat kualitaatif, artinya melibatkan pribadi dan diri peneliti sabagai
instrumen pengumpul data secara pasca positivisme.
KESIMPULAN
Berfilsafat sebagai perawatan jiwa
tampak salah satunya dalam pendidikan. Mendidik bagi Platon artinya merawat
jiwa -- sebuah ruang kebebasan -- sehingga di situasi faktual keterberiannya ia
bisa memberikan orientasi tertentu pada dirinya sendiri. Salah satu situasi
terberi manusia adalah bahwa dirinya sudah terbentuk oleh lingkungannya untuk
menghasrati hal-hal tertentu. Dalam keterberian dirinya, hidup dengan
pengalaman inderawinya (memandang, mendengar, mengecap hal-hal inderawi)
manusia selalu telah membentuk dirinya dengan hasrat-hasrat tertentu.
Penyimpulan harus tajam dengan temuan baru dapat berupa teori, postulat, rumus,
kaidah, metode, model, purwarupa (prototipe),
atau yang setara. Simpulan harus ditunjang oleh data hasil penelitian yang
mencukupi yang menjawab tujuan penelitian. Artinya, bukan hanya sebatas
mengulangi hasil penelitian.
Dengan demikian, kebebasan pada
peserta didik harusnya dibuka oleh soal-soal yang lebih otentik. Sebab
pengalaman pada dirinya sendiri telah lebih dahulu membentuk intelektualitas
dengan pengalaman masing-masing yang berbeda-beda. Maka, proses imitasi
tersebut secara perlahan akan membentuk dirinya sendiri, dan dengan itu manusia
sudah mendidik jiwanya sendiri secara tertentu.
DAFTAR
PUSTAKA
ADian
Husaini , Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam (Jakarta: Gema Insani, 2013)
Himyari
Yusuf, Filsafat Ilmu (Bandar Lampung: Pusikamla, 2009)
Mohammad
Muslih, Filsafat Ilmu, Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori
Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta, Belukar, 2004), h. 29.
Sehat
Sultoni, Ontologi Pendidikan Islam. 20018
[1]Adian Husaini (ed.), Filsafat Ilmu Perspektif
Barat dan Islam (Jakarta: Gema Insani, 2013) , h. 13. Himyari Yusuf, Filsafat
Ilmu (Bandar Lampung: Pusikamla, 2009), h. 3.
[2]Sehat Sultoni, Ontologi Pendidikan Islam. 20018
[3]Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu, Kajian Atas Asumsi
Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta, Belukar,
2004), h. 29.
Komentar
Posting Komentar